INTERAKSI SOSIAL

NILAI DAN NORMA

PERILAKU MENYIMPANG

SOSIALISASI

PENGENDALIAN SOSIAL

STRUKTUR SOSIAL

KONFLIK SOSIAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

PENELITIAN SOSIAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

PERUBAHAN SOSIAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 17 November 2012

Komunikasi antar budaya


Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang- orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau  sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Kebudayaan adalah cara  hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari  generasi ke generasi (Tubbs, Moss:1996).  Komunikasi antar budaya memiliki akarnya dalam bahasa (khususnya  sosiolinguistik), sosiologi, antropologi budaya, dan psikologi. Dari keempat  disiplin ilmu tersebut, psikologi menjadi disiplin acuan utama komunikasi lintas  budaya, khususnya psikologi lintas budaya.   Pertumbuhan komunikasi antar budaya dalam dunia bisnis memiliki tempat yang utama, terutama perusahaan – perusahaan yang melakukan ekspansi  pasar ke luar negaranya notabene negara – negara yang ditujunya memiliki aneka  ragam budaya.
Selain itu, makin banyak orang yang bepergian ke luar negeri  dengan beragam kepentingan mulai dari melakukan perjalanan bisnis, liburan,  mengikuti pendidikan lanjutan, baik yang sifatnya sementara maupun dengan  tujuan untuk menetap selamanya.   Satelit komunikasi telah membawa dunia menjadi semakin dekat, kita  dapat menyaksikan beragam peristiwa yang terjadi dalam belahan dunia,baik  melalui layar televisi, surat kabar, majalah, dan media on line. Melalui teknologi  komunikasi dan informasi, jarak geografis bukan halangan lagi kita untuk melihat  ragam peristiwa yang terjadi di belahan dunia.  Berbicara mengenai komunikasi antarbudaya, maka kita harus melihat  dulu bebrapa defenisi yang diikutif oleh Ilya Sunarwinadi ( 1993: 7-8 )  berdasarkan pendapat para ahli antara lain : 
 1. Sitaram ( 1970 )  : Seni untuk memahami dan saling pengertian antara  khalayak yang berbeda kebudayaan (intercultural communication…the art of  understanding and being understood by audience of mother culture ).  
2.  Samovar dan Porter ( 1972 )  : Komunikasi antarbudaya terjadi  manakala bagaian  yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut membawa  serta latar belakang budaya pengalaman yang berbeda yang mencerminkan nilai  yang dianut oleh kelompoknya berupa pengalaman, pengetahuan, dan nilai  (intracultural communication obtains whenever the parties to acommunications  act to bring with them different experiential backgrounds that reflect along- standing deposit of group experience, knowledge, values).  
3. Rich ( 1974 ) : Komunikasi antarbudaya terjadi ketika orang-orang yang  berbeda kebudayaan (communication is intercultural when accuring between  peoples of different cultures).  
4.  Young Yun Kim ( 1984 )  : Komunikasi antarbudaya adalah suatu  peristiwa yang merujuk dimana orang-orang yang terlibat didalamnya baik secara  langsung maupun  tidak langsung memiliki latar belakang budaya yang berbeda  (intercultural communication…refers  the communication phenomenon in which participant, different in cultural background, come into direct or indirect contact  which one another).  
Seluruh defenisi  diatas dengan jelas menerangkan bahwa ada penekanan  pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menetukan dalam  berlangsungnya proses komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya  memang mengakui dan mengurusi permasalahan mengenai persamaan dan  perbedaan dalam karakteristik kebudayaan antar pelaku–pelaku komunikasi, tetapi  titik perhatian utamanya tetep terhadap proses komunikasi individu-individu atau  kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan dan mencoba untuk melakukan  interaksi.   Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua  sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau  mewariskan budaya, seperti yang dikatakan Edward T. Hall, bahwa “komunikasi adalah budaya” dan budaya adalah komunikasi”. Pada suatu sisi, komunikasi  merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya  masyarakat, baik secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat  lainnya, ataupun secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada  sisi lain budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai  untuk kelompok tertentu.  
  1. PRINSIP- PRINSIP KOMUNIKASIANTAR BUDAYA
1.      Relativitas Bahasa
Gagasan umum bahwa bahasa mempengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa mempengaruhi proses kognitif kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.
2.      Bahasa sebagai cermin budaya
Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahankomunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).
3.      Mengurangi Ketidakpastian
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga kita dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena letidak-pasrtian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.
4.      kesadaran diri dan perbedaan antar budaya
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat kita terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.
5.       Interaksi awal dan perbedaan antar budaya
Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun selalu terdapat kemungkinan salah persepsi dansalah menilai orang lain, kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.
6.      Memaksimalkan hasil interaksi
Dalam komunikasi antarbudaya terdapat tindakan-tindakan yang berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Pertama, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Kedua, bila mendapatkan hasil yang positif, maka pelaku komunikasi terus melibatkan diri dan meningkatkan komunikasi. Bila memperoleh hasil negatif, maka pelaku mulai menarik diri dan mengurangi komunikasi. Ketiga, pelaku membuat prediksi tentang perilaku mana yang akan menghasilkan hasil positif. Pelaku akan mencoba memprediksi hasil dari, misalnya, pilihan topik, posisi yang diambil, perilaku nonverbal yang ditunjukkan, dan sebagainya. Pelaku komunikasi kemudian melakukan apa yang menurutnya akan memberikan hasil positif dan berusaha tidak melakkan apa yang menurutnya akan memberikan hasil negatif.
  
  1. SALURAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
1. Antarpribadi/ interpersonal/ person-person yaitu orang dengan orang  secara langsung  
2. Media massa yaitu melalui radio, surat kabar, TV, Film, Majalah
Bersama-sama dengan dua dimensi sebelumnya, saluran komunikasi juga  mempengaruhi proses dan hasil keseluruhan dari KAB. Misalnya : orang Indonesia  menonton melalui TV keadaan kehidupan di Afrika akan memilih pengalaman  yang berbeda dengan keadaan apabila ia sendiri berada disana dan melihat dengan  mata kepala sendiri.   Umumnya pengalaman komunikasi antar pribadi dianggap memberikan  dampak yang lebih mendalam. Komunikasi melalui media kurang dalam hal  feedback  langsung antar partisipan dan bersifat satu arah. Sebaliknya, saluran  antarpribadi tidak dapat menyaingi kekuatan saluran media dalam mencapai  jumlah besar manusia sekaligus melalui batas-batas kebudayaan. Tetapi dalam  keduanya, proses-proses komunikasi bersifat antarbudaya  bila partisipan-  partisipannya berbeda latar belakang budayanya. Ketiga dimensi diatas dapat  digunakan secara terpisah ataupun bersamaan, dalam mengkalsifikasikan  fenomena KAB khusus. Misalnya : kita dapat menggambarkan komunikasi antara  Presiden Indonesia dengan Dubes baru dari Nigeria sebagai komunikasi  internasaional, antarpribadi dalam konteks politik, komunikasi antara pengecara  AS dari keturunan Cina dengan kliennya orang AS keturunan Puerto Rico sebagai  komunikasi antar etnik, antarpribadi dan massa dalam konteks akulturasi migran.  Maka apapun tingkat keanggotaan kelompok konteks sosial dan saluran  komunikasi, komunikasi dianggap antar budaya apabila para komunikator yang  menjalin kontak dan interaksi mempunyai latar belakang pengalaman berbeda (  Lusiana, 2002:5).
D. FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
1.  Fungsi Pribadi
Fungsi pribadi komunikasi antar budaya adalah fungsi-fungsi komunikasi  antar budaya yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber  dari seorang individu.
•  Menyatakan Identitas Sosial 
Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku  komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas  sosial.  Perilaku  itu dinyatakan melalui  tindakan berbahasa  baik secara  verbal  dan  nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri  maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul  suku  bangsa,  agama,  maupun tingkat pendidikan seseorang.
•  Menyatakan intergrasi social
Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan  antarpribadi, antarkelompok  namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan  yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan  komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi  antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antarbudaya  yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan,  maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. 
•  Menambah pengetahuan
Seringkali komunikasi antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing.
2.  Fungsi Sosial
•  Pengawasan
Fungsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi  antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbada  kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi  antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan  "perkembangan" tentang  lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan  oleh  media massa  yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa  yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam  sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.
•  Menjembatani
Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang  dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan  jembatan  atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol  melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling  menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan  makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh berbagai konteks  komunikasi termasuk komunikasi massa.
•  Sosialisasi Nilai
Fungsi  sosialisasi  merupakan fungsi untuk mengajarkan dan  memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada  masyarakat lain.
•  Menghibur
Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi  antarbudaya. Misalnya menonton  tarian  dari kebudayaan lain. Hiburan  tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.

komunikasi kelompok



A.    Pengertian dan Karakteristik Komunikasi Kelompok
1.      Pengertian Kelompok
Kelompok dapat diartikan sejumlah orang yg terlibat dlm interaksi pd suatu pertemuan tatap muka, di mana setiap anggota mendapat kesan yg jelas, sehingga seseorang baik di saat timbul pertanyaan maupun sesudahnya dpt memberikan tanggapan kepada yang lainnya.
Menurut ADLER & RODMAN, Kelompok adalah sekumpulan kecil orang yg saling berinteraksi, biasanya tatap muka dlm waktu yg lama guna mencapai tujuan tertentu. Ada 4 elemen kelompok yaitu: interaksi, waktu, ukuran, tujuan.
2.      Pengertian Komunikasi Kelompok menurut para ahli
            Menurut goldberg & larson, Komunikasi Kelompok adalah suatu bidang studi penelitian & terapan yg secara umum tidak menitikberatkan perhatiannya pd proses kelompok, tetapi pd tingkah laku individu dlm diskusi kelompok tatap muka yg kecil.
Selain pengertian diatas burgoon & ruffner juga memberikan definisi mengenai komunikasi kelompok, yaitu interaksi tatap muka dr tiga atau lebih individu utk memperoleh yg dikehendaki seperti berbagi informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota dpt menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya dgn akurat. (ada 4 unsur: interaksi tatap muka, jumlah partisipan, tujuan & kemampuan anggota utk menumbuhkan karakteristik anggota lainnya)
3.      Karakteristik Komunikasi Kelompok
            Karakteristik komunikasi dalam kelompok ditentukan melalui dua hal, yaitu norma dan peran.
      Norma adalah kesepakatan dan perjanjian tentang bagaimana orang- orang dalam suatu kelompok berhubungan dan berperilaku satu sama lainnya. severin dan tankard (2005: 220) menyebutkan ada dua jenis norma, yaitu deskriptif dan perintah. Norma deskriptif  menentukan apa yang seharusnya dilakukandalam sebuah konteks, sedangkan norma perintah menentukan apa  yang umumnya disetujuai oleh masyarakat.
      Terdapat tiga kategori norma dalam kelompok yaitu norma sosial, prosedural, dan tugas. norma sosial mengatur hubungan dianatar anggota kelompok. Sedangkan norma prosedural menguraikan secara rinci bagaimana suatu kelompok mengambil keputusan, harus beroperasi, dan pada akhirnya pada lkesepakatan kelompok. Norma tugas mengatur bagaimana pekerjaan harus dilakukan ( sendjaja 2002: 3.6).
                Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan atau status. Menurut soerjono soekanto, seseorang telah menjalankan peran apabila telh melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan keduduknnya.
                Menurut adler & rodman  peran dalam komuikasi kelompok meliputi fungsi tugas dan pemeliharaan. Fungsi Tugas yaitu pemberi informasi, pemberi pendapat, pencari informasi dan pemberi aturan. Sedangkan  Fungsi Pemeliharaan meliputi pendorong partisipasi, penyelaras, penurunan ketegangan, penanganan persoalan pribadi.
Menurut brilhart, ada 5 karakteristik komunikasi dalam kelompok, yaitu:
  1. Meliputi sekelompok kecil orang (2-20) sehingga setiap orang menjadi sadar & mampu bereaksi terhadap yang lainnya.
  2. Untuk keberhasilan pencapaian tujuan setiap orang harus terikat dalam kondisi saling ketergantungan.
  3. Setiap orang harus mempunyai rasa saling memiliki & mengidentifikasi diri dengan anggota kelompok lain.
  4. Interaksi secara oral, walau tidak seluruh interaksi berlangsung secara oral, tapi yang signifikan melalui pembicaraan.
  5. Perilaku didasarkan pd norma-norma, nilai & prosedur yg diterima tiap anggota.
  1. Prinsip dasar komunikasi kelompok
Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek kehidupan. Ia bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan masalah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisosial.
Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut, yaitu :
Elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
Elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
Elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
Elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites